Mootilango, Gorontalo | Sebuah momen sederhana terjadi ketika Ustaz Ruslan Demanto berbaur bersama keluarga yang sedang berduka di Desa Suka Maju, Kecamatan Mootilango, Kabupaten Gorontalo.
Di tengah suasana duka, keluarga dan masyarakat yang hadir terlihat sibuk mempersiapkan berbagai keperluan, termasuk menyiapkan hidangan untuk para tamu.
Saat baru tiba di lokasi, Ustaz Ruslan mendapat ajakan sederhana dari salah seorang yang berada di sana.
“Eh, marijo torang ba angka es buah…”
Ustaz Ruslan pun menjawab santai,
“Ayo, yang mana?”
Tanpa banyak pertimbangan, ia bersedia membantu mengangkat es buah.
Namun, salah seorang anggota keluarga kemudian langsung mencegah orang tersebut setelah mengetahui bahwa orang yang diajak membantu adalah Ustaz Ruslan.
“Bolo maapu, Ustad. Dia tidak tahu itu Ustad.”
Ustaz Ruslan justru tersenyum menanggapi kejadian tersebut.
Baginya, membantu mengangkat es buah bukanlah sesuatu yang perlu dipersoalkan. Ia merasa nyaman ketika dapat berbaur dan membantu masyarakat dalam hal-hal sederhana.
Tidak Harus Selalu Dilayani
Bagi Ustaz Ruslan, penghormatan kepada seorang ustaz tidak berarti ia harus selalu dilayani dalam setiap keadaan.
Menjadi seorang ustaz tetap membuatnya merasa sebagai bagian dari masyarakat.
Karena itu, ia tidak ingin statusnya menjadi penghalang untuk berbaur, membantu, dan melakukan pekerjaan sederhana bersama masyarakat.
Pengalaman seperti ini juga bukan kali pertama dialaminya. Sebelumnya, Ustaz Ruslan pernah menjadi perhatian setelah membantu mengangkat pot.
Menurutnya, hal-hal sederhana seperti itu justru menjadi bagian dari kedekatan seorang pendakwah dengan masyarakat.
Dihormati bukan berarti harus selalu dilayani.
Dakwah Tidak Selalu di Atas Mimbar
Momen mengangkat es buah tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi Ustaz Ruslan, kebersamaan dengan masyarakat dapat terbangun melalui hal-hal kecil.
Dakwah tidak selalu berlangsung di atas mimbar. Kehadiran, kerendahan hati, kesediaan membantu, dan kemauan untuk berbaur juga menjadi bagian dari keteladanan seorang pendakwah.
Dalam kejadian tersebut, orang yang mengajak Ustaz Ruslan mengangkat es buah bernama Kojo.
Ustaz Ruslan menyampaikan terima kasih kepada Kojo yang telah menjadi bagian dari cerita sederhana dalam perjalanannya malam itu.
Bagi Ustaz Ruslan, kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa kedekatan dengan masyarakat tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar.
Terkadang, sebuah ajakan sederhana untuk mengangkat es buah dapat meninggalkan pesan tentang kerendahan hati, kebersamaan, dan kemanusiaan.
